Malaria Re-emerging Disease di Malang Raya

Ditulis oleh : Tanto Hariyanto, S.Si.T, S.Kep,

Tanggal : 2011-12-02


Infeksi Malaria terjadi pada banyak negara di dunia, tercatat kejadian penyakit malaria pada tahun 2004 berkisar 350 juta sampai dengan 500 juta kasus. Jumlah tersebut merepresentasikan bahwa lebih dari 40% populasi dunia mempunyai resiko terinfeksi malaria. Oleh World Health Organization (WHO) kematian yang disebabkan malaria diestimasikan mencapai 1,1 – 1,3 juta kasus / tahun pada tahun 1999 – 2004, (Tuteja, 2007). Malaria tersebar pada daerah tropis maupun subtropis, meskipun sebagian besar kejadian endemisnya pada daerah tropis. Sebagian besar kasus malaria terjadi di negara-negara sekitar sahara benua afrika serta beberapa negara lainnya (jenis malaria tertentu) India, Brazil, Afghanistan, Sri Lanka, Thailand, Indonesia, Vietnam, Cambodia, and China (Tuteja, 2007).

Di Indonesia 93,5 juta penduduk merupakan populasi yang beresiko terhadap infeksi malaria. Penyakit ini kini bukan hanya menjadi masalah kesehatan utama di luar Jawa dan Bali, tetapi sudah meluas ke seluruh Indonesia. Jumlah penderita malaria jenis falcifarum pada tahun 2009 di Kab. Malang mencapai 30 orang dan malaria jenis vivax mencapai 18 orang (Dinkes Kab. Malang, 2009). Meskipun belum adanya laporan secara formal dari kejadian malaria plasenta, tidak menutup kemungkinan akan terjadi kasus-kasus malaria plasenta di wilayah Malang dan sekitarnya mengingat sejak tahun 2001 kejadian malaria meningkat dan puncaknya pada tahun 2003 terdapat 439 kasus (Dinkes Kab. Malang, 2009).

Penyebab Malaria
Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh sporozoa genus Plasmodium yang merupakan parasit intraseluler ameboid penghasil pigmen pada vertebrata, dengan habitat dalam eritrosit. Penularan ke manusia terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles betina (Brooks, et al., 2004). Ditemukan ada empat spesies parasit malaria yang menginfeksi manusia: Plasmodium vivax, Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae, Plasmodium ovale dan Plasmodium knowlesi (Tuteja, 2007.

Siklus hidup plasmodium
Sikus hidup Plasmodium spp. dapat dibagi menjadi dua, aseksual dan seksual. Fase aseksual terjadi di dalam tubuh manusia dan fase seksual terjadi di dalam tubuh nyamuk Anopheles betina. Fase aseksual dibagi menjadi dua, fase eritrosit dan fase pre-eritrosit (Biggs and Brown, 2001). Semua Plasmodium spp. ditransmisikan oleh gigitan nyamuk Anopheles betina. Pada saat nyamuk menggigit manusia, sporozoit yang berada di dalam kelenjar ludah masuk melalui pembuluh darah. Sporozoit beredar dalam darah dalam waktu yang singkat kemudian menginvasi hepatosit. Didalam hepatosit, sporozoit memulai fase aseksualnya, kompletnya fase aseksual menghasilkan ribuan merozoite ekstra eritrosit dari masing-masing hepatosit. Waktu yang  diperlukan pada fase aseksual tergantung dari spesies yang menginfeksinya yaitu 8 – 25 hari untuk P. falciparum, 8 – 27 hari untuk P. vivax, 9 – 17 hari untuk P. ovale dan 15 – 30 hari untuk P. malariae, periode ini disebut dengan periode pre-patent. (Kakkilaya's, 2006). Pada P. vivax dan P. ovale, beberapa sporozoite dimungkinkan hibernasi pada sel hepar (fase kritobiotik) disebut dengan hipnozoit. Hipnozoit akan dorman di dalam hepatosit dan sewaktu-waktu dapat mengakibatkan serangan ulang (reaktif) dalam beberapa bulan bahkan tahunan. (Kakkilaya's, 2006).

Fase eritrosit dimulai ketika merozoit mulai menginvasi eritrosit. Ketika fase ini, merozoit berkembang di dalam eritrosit dan berkembang menjadi ring form sampai menjadi thropozoit matur yang diikuti dengan skizogoni untuk membentuk skizon. Tiap-tiap eritrosit yang terinfeksi mengandung 24-32 merozoit. Apabila eritrosit tersebut ruptur, maka merozoit akan lepas dan menginvasi eritrosit lainnya (Biggs and Brown, 2001).

Daftar Pustaka:

Brooks, F.B., S.B., Janet. dan A.M., Stephen. 2004. Jawetz, Melnick, and Adelberg’s Medical Microbiology 23rd Edition. New York: The McGraw Hill Companies, Inc.

Biggs B.-A. and. Brown G.V, 2001, Principle and Practice of Clinical Parasitology, John Wiley & Sons Ltd, England

Dinas Kesehatan Kab. Malang, 2009, Evaluasi Program Pemberantasan Penyakit Menular Bersumber Binatang (P2B2) Tahun 2009

Kakkilaya's B.S., 2006, Life Cycle of Malaria, www.malariasite.com, diakses tanggal 22 Juli 2010 pkl. 13.07

Kakkilaya's B.S., 2009, Malaria and Pregnance are Mutually Aggravatting, www.malariasite.com, diakses tanggal 22 Juli 2010 pkl. 12.58

Tjitra, E., 2004, Pengobatan Malaria dengan kombinasi Artemisinin, (online), http://www.litbang.depkes.go.id/~djunaedi/data/Emil.pdf

Turteja R, 2007, Malaria - an overview, The FEBS Journal, Malaria Group, International Centre for Genetic Engineering and Biotechnology, New Delhi,

 

XPF