20 Perguruan Tinggi Wujudkan Desa EMAS di Jatim

20 Perguruan Tinggi Wujudkan Desa EMAS di Jatim

20 Perguruan Tinggi di Jatim menggagas konsep Desa Emas dalam program Matching Fund Kedaireka. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan percepatan penurunan stunting hingga level desa.

Dipimpin oleh UNAIR, dalam program Desa Emas, akhirnya terbentuklah konsorsium perguruan tinggi Jawa Timur. Ini sebagai kepanjangan tangan dari Forum Rektor Indonesia beberapa waktu lalu.

Saat ini tim Desa EMAS telah bekerja bersama desa, kecamatan dan kabupaten untuk mewujudkan Desa/Kampung Emas di Jatim, dan telah dikirim 540 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ke 180 desa lokus stunting di 18 kabupaten/kota se-Jatim. Kegiatan ini berlangsung secara bergelombang sejak Agustus dan berakhir pada minggu kedua Desember 2022.

“Kata EMAS merupakan singkatan dari eliminasi stunting, harapannya desa-desa yang menjadi lokasi program kami mampu mewujudkan diri menjadi desa EMAS melalui pendampingan dari kami,” ujar Siti R Nadhiroh, selaku koordinator Program Desa EMAS, Selasa (13/12/2022).

Adapun konsorsium PT terdiri dari Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh November, Universitas Brawijaya, UPN Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Jember, Poltekkes Kemenkes Surabaya, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Universitas Trunojoyo Madura, Poltekkes Kemenkes Malang, dan Universitas Darul Ulum Jombang.

Kemudian, Universitas Nahdatul Ulama Surabaya, Universitas Surabaya, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Surabaya, Universitas Muhammadiyah Gresik, Universitas Islam Malang, STKIP PGRI Pacitan, Politeknik Negeri Madura dan Universitas Ciputra Surabaya.

Sedangkan 18 Kabupaten/Kota yang menjadi lokasi untuk 180 Desa/kampung Emas, antara lain Surabaya, Bangkalan, Sumenep, Pamekasan, Kab. Mojokerto, Kab. Jombang, Kab Pasuruan, Kab Nganjuk, Kab Bondowoso, Kab Bojonegoro, Kab Malang, Kota Malang, Kab Tuban, Kab Pacitan, Jember, Lumajang, Gresik dan Kab Probolinggo.

 “Pemilihan Kabupaten/Kota tersebut didasarkan hasil survei status gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021, dimana prevalensi stunting nya masih di atas 20 persen,” jelas Nadhiroh, yang juga dosen Gizi FKM Unair tersebut.

Nadhiroh memaparkan, adapun Desa EMAS diwujudkan melalui pendekatan 5 pilar, yaitu penguatan komitmen dan visi kepemimpinan pemerintah daerah hingga desa, kemudian peningkatan komunikasi perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat, peningkatan konvergensi intervensi spesifik dan intervensi sensitif, lalu peningkatan ketahanan pangan dan gizi pada tingkat individu, keluarga, dan masyarakat desa. Terkahir, yakni penguatan dan pengembangan sistem, data, informasi, riset, dan inovasi