POLTEKKES KEMENKES MALANG

Implementasikan Interprofessional Education (IPE) dalam Simulasi Krisis Kesehatan Pada Bencana

Poltekkes Kemenkes Malang Implementasikan Interprofessional Education (IPE) dalam Simulasi Krisis Kesehatan Pada Bencana, Libatkan 1.554 Mahasiswa Lintas Jurusan dan Prodi.

Sebanyak 1.554 mahasiswa Poltekkes Kemenkes Malang mengikuti kegiatan Simulasi Interprofessional Education (IPE) Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Banjir dan Tanah Longsor (IPE PKKB) Tahun 2026 yang diselenggarakan di kawasan Waduk Selorejo, Kabupaten Malang, pada tanggal 3-6 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu implementasi pembelajaran lapangan berbasis simulasi interprofesional terbesar di lingkungan pendidikan kesehatan Indonesia.

Sebanyak 775 mahasiswa mengikuti Gelombang I dan 779 mahasiswa mengikuti Gelombang II. Peserta berasal dari 6 jurusan dan 16 program studi Poltekkes Kemenkes Malang yang terdiri atas mahasiswa Diploma III Semester IV dan Sarjana Terapan Semester VI. Melalui pendekatan Interprofessional Education (IPE), mahasiswa dari berbagai profesi kesehatan dilatih bekerja dalam satu sistem pelayanan kesehatan yang terintegrasi saat menghadapi situasi krisis kesehatan akibat bencana.

Mengusung tema “Kolaborasi Interprofesional dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan dan Manajemen Diabetes Mellitus dalam Kebencanaan”, simulasi tahun ini menghadirkan skenario bencana tingkat kabupaten berupa banjir dan tanah longsor yang melanda beberapa wilayah di Kabupaten Malang dengan dampak terberat di kawasan Selorejo. Skenario dirancang menyerupai kejadian nyata yang menuntut koordinasi lintas sektor dan lintas profesi dalam penanganan korban, pengungsi, kelompok rentan, serta pasien dengan penyakit kronis.

Dalam simulasi tersebut, mahasiswa berperan sebagai bagian dari sistem penanganan krisis kesehatan yang melibatkan aktivasi Health Emergency Operation Center (HEOC), pelaksanaan Rapid Health Assessment (RHA), triase dan evakuasi korban, pelayanan Rumah Sakit Lapangan (RSL), pelayanan kesehatan ibu dan anak, kesehatan jiwa dan psikososial, pengelolaan shelter pengungsian, logistik kesehatan, unit transfusi darah, promosi kesehatan, rekam medis dan informasi kesehatan, administrasi kesehatan, hingga keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Direktur Poltekkes Kemenkes Malang, Dr. Siti Nur Kholifah, SKM., M.Kep., Sp.Kom, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan calon tenaga kesehatan yang mampu bekerja secara kolaboratif pada situasi darurat dan bencana.

“Bencana tidak dapat ditangani oleh satu profesi saja. Melalui simulasi interprofesional ini, mahasiswa belajar memahami peran masing-masing profesi, berkomunikasi secara efektif, mengambil keputusan bersama, serta memberikan pelayanan kesehatan yang terintegrasi kepada masyarakat terdampak bencana,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Pengembang Pendidikan Poltekkes Kemenkes Malang, Budi Susatia, S.Kp., M.Kes, selaku pembina kegiatan menjelaskan bahwa pelaksanaan simulasi ini merupakan implementasi dari SK Direktur Jenderal Tenaga Kesehatan Nomor HK.02.02/F/206/2023 tentang Mata Kuliah Penanggulangan Krisis Kesehatan pada Bencana di lingkungan Poltekkes Kementerian Kesehatan.

“Pembelajaran interprofesional merupakan kompetensi penting yang harus dimiliki tenaga kesehatan masa depan. Mahasiswa tidak hanya belajar menjadi tenaga kesehatan yang kompeten dalam bidangnya masing-masing, tetapi juga belajar bekerja bersama profesi lain. Kemampuan berkolaborasi, berkomunikasi, saling menghargai peran, dan mengambil keputusan bersama merupakan kompetensi utama yang ingin dibangun melalui IPE PKKB,” jelasnya.

Salah satu keunikan simulasi tahun ini adalah integrasi manajemen Diabetes Mellitus dalam situasi kebencanaan, sebagai bentuk penguatan kompetensi mahasiswa dalam menangani kelompok rentan dan penyakit kronis pada kondisi darurat. Skenario mencakup penanganan pasien diabetes yang kehilangan akses obat, kebutuhan diet khusus di pengungsian, hingga koordinasi pelayanan berkelanjutan bagi penyintas dengan penyakit kronis.

Ketua Pelaksana IPE PKKB 2026, Agus Khoirul Anam, S.ST., M.Kes, menjelaskan bahwa seluruh alur simulasi dirancang mengikuti mekanisme penanggulangan krisis kesehatan yang berlaku secara nasional.

“Mahasiswa tidak hanya belajar melakukan tindakan klinis, tetapi juga memahami bagaimana sistem komando kesehatan bekerja mulai dari laporan masyarakat, koordinasi BPBD dan pemerintah daerah, aktivasi HEOC, pengiriman tim RHA, hingga pengelolaan pelayanan kesehatan di lapangan secara menyeluruh,” jelasnya.

Selain simulasi tanggap darurat, peserta juga dilatih dalam pengelolaan pengungsian, pengelolaan dapur gizi, komunikasi risiko kepada masyarakat, keselamatan petugas, pengelolaan logistik kesehatan, pelayanan transfusi darah, pengolahan data dan informasi, layanan pembiayaan asuransi kesehatan pada bencana, promosi kesehatan,   serta dukungan kesehatan jiwa dan psikososial bagi penyintas bencana.

Penguatan Kompetensi melalui Evaluasi Pembelajaran 

Sebagai bagian dari proses pembelajaran, seluruh peserta mendapatkan materi kebijakan nasional penanggulangan krisis kesehatan, yang disampaikan oleh Pusat Krisis Kementerian Kesehatan RI, pendampingan dan observasi oleh fasilitator pada masing-masing area operasional. Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen penilaian yang dirancang untuk mengukur pencapaian kompetensi mahasiswa dalam situasi krisis kesehatan dan kebencanaan.

Aspek yang dievaluasi meliputi kolaborasi interprofesional, komunikasi dan koordinasi, kepemimpinan dan pengambilan keputusan, keselamatan dan profesionalisme, serta manajemen operasional. Melalui proses evaluasi tersebut, mahasiswa memperoleh umpan balik mengenai kemampuan bekerja dalam tim lintas profesi, menjalankan peran sesuai kompetensi, berkomunikasi dalam sistem komando, menerapkan prinsip keselamatan, serta mengelola pelayanan kesehatan pada situasi darurat dan bencana.

Evaluasi ini menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa kegiatan IPE PKKB tidak hanya memberikan pengalaman belajar lapangan, tetapi juga mendukung pencapaian kompetensi pembelajaran yang telah ditetapkan dalam Mata Kuliah Penanggulangan Krisis Kesehatan pada Bencana.

Belajar Bencana dari Pengalaman Nyata

Bagi peserta, pengalaman mengikuti IPE PKKB 2026 memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana sistem penanggulangan krisis kesehatan bekerja di lapangan.

Aura Kinayungan, salah satu mahasiswa peserta, mengaku simulasi tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda dibandingkan pembelajaran di kelas.

"Sebelumnya kami tidak menyangka simulasi ini akan dibuat serealistis itu. Saat berada di lapangan, kami benar-benar dapat memahami teori yang selama ini dipelajari, mulai dari triase, tugas masing-masing klaster, hingga dinamika kerja dalam situasi bencana."

Menurut Aura, pengalaman tersebut membuat mahasiswa lebih mudah memahami konsep kebencanaan dibandingkan hanya mempelajarinya melalui perkuliahan.

"Belajar kebencanaan tidak cukup hanya di atas kertas. Ketika berada langsung dalam simulasi, kami bisa membayangkan bagaimana suasana bencana yang sebenarnya dan memahami bagaimana tenaga kesehatan harus bekerja secara cepat, terkoordinasi, dan kolaboratif."

Melalui kegiatan ini, Poltekkes Kemenkes Malang berharap dapat menghasilkan tenaga kesehatan yang tidak hanya kompeten secara akademik dan klinis, tetapi juga memiliki kemampuan kolaborasi, komunikasi, kepemimpinan, serta kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai situasi krisis kesehatan dan kebencanaan di masa depan.

Kegiatan IPE PKKB 2026 menjadi wujud komitmen Poltekkes Kemenkes Malang dalam mengembangkan pembelajaran interprofesional yang inovatif, kontekstual, dan berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat, sekaligus mendukung penguatan sumber daya manusia kesehatan yang tangguh dan adaptif menghadapi tantangan kebencanaan di Indonesia.